Raden?

Mendengar kata Raden di negara kita sudah pasti adalah orang-orang dari kalangan terhormat. Kalangan orang-orang berdarah biru yang notabene hidup di kerajaan/keraton. Nama Raden merupakan nama yang terpandang di kalangan masyarakat pada zamannya. Keturunannya pun dianggap terpandang oleh masyarakat sekitar, apalagi jika Raden itu adalah keturunan langsung dari seorang Raja. Namun, timbul pertanyaan. Bagaimana jika nama Raden itu melekat pada nama orang biasa sepertiku?

“R. Gita Ardhy Nugraha!”

“Ya, saya sendiri!”

“R-nya itu nama baptis? Atau Raden?”

“Raden, Bu. Bukan nama baptis.”

“Oh, Raden to. Dari mana? Itu asli? dst dst..”

Percakapan seperti ini sering kujumpai sendiri ketika berkenalan dengan orang baru terutama dalam dunia perkuliahan maupun pekerjaan. Seolah tidak percaya, gelar Raden itu ada pada diriku sejak aku lahir. Usut punya usut, singkatan R yang ada di depan namaku berasal dari Jogja sana. Lebih tepatnya karena aku merupakan keturunan Raden Hamengkubuwono II (gak tau yang keberapa). Aku mendapatkan cerita dari Ibuku, bahwa Ayahku disuruh oleh Alm. Eyang Kakung untuk mengurus gelar dan semua administasinya. Selain itu, karena aku laki-laki. Ayahku sampai ke Jogja buat urus semuanya sampai pada akhirnya huruf “R” ada di depan namaku.

Aku masih ingat betul huruf “R” di depan namaku jadi bahan olok-olok pada masa sekolah. Dari SD sampai SMA, dari yang disebut anak darah biru lah, anak keraton lah, anak bangsawan lah, dan masih banyak lagi. Sempat aku protes ke Ayahku, kenapa sih repot-repot cari gelar dan akhirnya buat olok-olok teman-teman sekolah? Ayahku hanya bisa menjawab, “Kamu itu keturunan Hamengkubuwono II, kamu harus bangga, Le!”. Ya, rasa bangga memang ada, tapi sampai sekarang aku masih merasa tidak nyaman.

Seringkali aku tutup pembicaraan jika ada temanku yang mencoba mencari tahu. Memang karena aku tidak suka. Pemikiranku, zaman sekarang apa iya masih berlaku “R” ini? Aku lebih berpikir realistis saja lah, tidak perlu sampe menonjolkan diri karena ada “R” di namaku. Toh juga aku ingin dikenal bukan karena “R” ini, tapi melalui karya dan tindakan yang aku lakukan untuk masyarakat. Lagian, jika mati, tidak akan ditanya: “Kamu keturunan siapa?” Betul?

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s