Curahan Hati Petugas Parkir

Siang ini, matahari bersinar sangat terik. Panasnya sampai ke ubun-ubun. Untunglah perkuliahan dicukupkan dulu sampai jam 11 siang, jadi bisalah pulang lebih awal. Saat berjalan ke arah parkiran kampus, saya melihat dua orang mas-mas petugas parkir yang terlihat kebingungan. Saya coba untuk bertanya, karena bagaimanapun juga, saya akan sering bertemu dengan mas-mas ini. Mengakrabi lebih baik daripada cuek-cuek saja. Singkat cerita, terjadilah sebuah percakapan antara saya dan mas-mas petugas perpakiran itu.

“Lho, wonten nopo mas? Kok gerbang parkir ditutup?” tanyaku.

“Ngaten mas, mulai benjang, motor mboteng pareng parkir wonten mriki.” jawab mas-masnya.

“Lha wonten nopo kok boten pareng parkir?” tanyaku lagi.

“Wau wonten tiyang bla bla bla bla..” jawab mas-masnya dengan terus terang.

Cukup lama saya mendengarkan cerita mas-mas petugas parkir ini di bawah teriknya sinar matahari. Ternyata, larangan parkir motor di depan gedung ini baru dibicarakan tadi karena salah seorang petinggi kampus kesulitan untuk memarkirkan mobilnya diantara banyaknya motor yang ada. Petinggi ini marah lalu berusaha menutup gerbang (akses) menuju parkiran belakang. Saya cukup kaget, karena parkiran sekecil itu kok bisa-bisanya harus memaksakan mobil masuk? Percakapan kamipun berlanjut.

“Sampun wonten usaha saking perparkiran mas?” tanyaku.

“Sampun mas, kita usul supaya tambah lahan parkir, tapi sampai sekarang belum ada jawaban. Kami tahu tiap tahun mahasiswa yang membawa kendaraan makin banyak sedangkan lahan parkir sudah habis. Kami tidak berdaya jika harus melawan petinggi.” jawabnya.

“Kok melawan mas? Memang petingginya salah?”

“Nggih salah mas, petinggi kan maunya beres cepet, tapi tidak memperhatikan kondisi nyatanya. Tadi saja pas saya bantah, beliau cuma bilang rapiin dan mobil pejabat harus bisa masuk.”

“Lho, bukannya depan juga ada parkiran mobil mas?” tanyaku lagi.

“Memang ada dan di sana khusus mobil. Tapi beliau tidak mau karena muternya kejauhan”.

“Lalu mas?”

“Ya saya sempat ditegur keras mas, bahkan sampai ada kata-kata untuk memecat saya. Saya kerja di sini gajinya kecil mas, tapi dipaido terus.”

Wah, saya langsung makdeg mendengar ucapan mas-mas petugas perpakiran tersebut. Saya berpikir, ini petinggi kok semena-mena amat ya? Memang tidak bisa dipungkiri, ketika seseorang mempunyai kedudukan yang tinggi, orang bisa bertindak sesuka hatinya tanpa (mungkin) didasari dengan fakta yang terjadi di lapangan. Contohnya ya apa yang saya temukan hari ini. Mobil tidak bisa parkir karena terhalang motor, petugas parkir terancam dipecat. Semoga hanya di kampus ini ada kejadian seperti ini, tempat lain tidak.

Pemimpin yang disukai anak buahnya adalah pemimpin yang melayani, yang memotivasi ayok kita kerja bareng, maju bareng. Bukan yang bersikap seperti bos yang hanya bisa mencari-cari kesalahan anak buahnya tanpa memberikan solusi.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s