Workshop Penulisan Artikel Ilmiah

Berawal dari surat edaran yang ditempel-tempel di kampus saya mengenai persyaratan ujian, saya cukup kaget. Ada kalimat yang mengatakan syarat ujian adalah publikasi artikel ilmiah ke jurnal ilmiah nasional terakreditasi. Mungkin bagi para pembaca yang belum mengerti, jurnal ilmiah nasional terakreditasi adalah sebuah wadah untuk menampung artikel atau jurnal-jurnal yang ditulis, direview, dan dipublikasikan yang sudah diakui dan diakreditasi oleh Dikti. Keberadaan jurnal ilmiah nasional terakreditasi di Indonesia masih sedikit dan proses submittingnya cukup sulit. Inilah yang membuat teman-teman saya merasa galau.

Bertolak dari sana, kampus saya mencoba memfasilitasi dengan mengadakan sebuah workshop penulisan artikel ilmiah. Kontribusinya cukup mahal, lebih dari Rp 200.000,00. Harga yang cukup membuat para mahasiswa berpikir ulang untuk mengikuti workshop ini. Awalnya, saya juga berpikir, uang sebanyak itu hanya dipakai untuk menghadiri acara selama 6 jam? Eman-eman banget. Setelah melalui pertimbangan sana-sini, saya nekat saja datang ke tempat pendaftaran dan membayarkan sejumlah uang untuk ikut acara ini. Jujur saja, setelah saya menerima bukti pembayaran, saya sedikit menyesal karena telah membuang uang sebanyak itu.

Continue reading

Advertisements

Curahan Hati Petugas Parkir

Siang ini, matahari bersinar sangat terik. Panasnya sampai ke ubun-ubun. Untunglah perkuliahan dicukupkan dulu sampai jam 11 siang, jadi bisalah pulang lebih awal. Saat berjalan ke arah parkiran kampus, saya melihat dua orang mas-mas petugas parkir yang terlihat kebingungan. Saya coba untuk bertanya, karena bagaimanapun juga, saya akan sering bertemu dengan mas-mas ini. Mengakrabi lebih baik daripada cuek-cuek saja. Singkat cerita, terjadilah sebuah percakapan antara saya dan mas-mas petugas perpakiran itu.

“Lho, wonten nopo mas? Kok gerbang parkir ditutup?” tanyaku.

“Ngaten mas, mulai benjang, motor mboteng pareng parkir wonten mriki.” jawab mas-masnya.

“Lha wonten nopo kok boten pareng parkir?” tanyaku lagi.

“Wau wonten tiyang bla bla bla bla..” jawab mas-masnya dengan terus terang.

Cukup lama saya mendengarkan cerita mas-mas petugas parkir ini di bawah teriknya sinar matahari. Ternyata, larangan parkir motor di depan gedung ini baru dibicarakan tadi karena salah seorang petinggi kampus kesulitan untuk memarkirkan mobilnya diantara banyaknya motor yang ada. Petinggi ini marah lalu berusaha menutup gerbang (akses) menuju parkiran belakang. Saya cukup kaget, karena parkiran sekecil itu kok bisa-bisanya harus memaksakan mobil masuk? Percakapan kamipun berlanjut.

Continue reading

Rumah Hijau yang Kurindukan

Mendengar kata rumah hijau, pasti yang terdapat pada benak kita bermacam-macam. Ada yang berpendapat rumah yang berwarna hijau, rumah yang bernuansa serba hijau, atau rumah yang dipenuhi dengan pepohonan. Foto yang saya tampilkan di sini adalah salah satu Rumah Hijau yang menjadi favorit saya. Ya, itu adalah rumah tempat (numpang) tinggal saya. Rumah yang gerbang, tembok, dan bahkan gentengnya berwarna hijau.

Kategori hijau yang berarti rumah yang dipenuhi dengan pepohonan pernah dimiliki oleh rumah saya sampai akhir Oktober tahun 2015 lalu. Dulu, Rumah Hijau ini memiliki banyak sekali pohon di halamannya. Pohon jambu air putih dan merah, mangga, rambutan, anggrek, bougenville, melati, sakura (bukan sakura Jepang), dan masih banyak lagi tanaman hias yang lain. Teringat masa lalu, saat jambu air putih berbuah, saya biasa memanjat pohonnya dan langsung memakan buahnya di atas pohon. Apalagi pada saat siang hari. Rasanya sueger tenan. Buah yang dihasilkan pohon mangga dan rambutan pun tidak kalah enaknya. Buah mangganya besar, bijinya kecil, daging buahnya tebal, dan rasanya manis. Ah, mankyus tenan deh. Rambutannya juga demikian.

Continue reading

Raden?

Mendengar kata Raden di negara kita sudah pasti adalah orang-orang dari kalangan terhormat. Kalangan orang-orang berdarah biru yang notabene hidup di kerajaan/keraton. Nama Raden merupakan nama yang terpandang di kalangan masyarakat pada zamannya. Keturunannya pun dianggap terpandang oleh masyarakat sekitar, apalagi jika Raden itu adalah keturunan langsung dari seorang Raja. Namun, timbul pertanyaan. Bagaimana jika nama Raden itu melekat pada nama orang biasa sepertiku?

“R. Gita Ardhy Nugraha!”

“Ya, saya sendiri!”

“R-nya itu nama baptis? Atau Raden?”

“Raden, Bu. Bukan nama baptis.”

“Oh, Raden to. Dari mana? Itu asli? dst dst..”

Continue reading

Namaku GITA

“Gita!”

“Ya, hadir!”

“Lho, cowok kok namanya Gita?”

Nama Gita biasanya digunakan untuk anak perempuan. Tapi, entah kenapa orang tuaku memberi nama Gita kepadaku. Nama Gita yang melekat pada diriku ini seringkali menjadi bahan pertanyaan dan olokan dari aku sekolah sampai kuliah. Awal-awal si memang risih, tapi lama-lama biasa juga. Malah menjadi kebanggaan tersendiri buat aku.

Suatu ketika, aku bertanya pada Ibuku soal nama ini. Kok aku yang laki-laki bisa diberi nama Gita seperti kakak dan adik perempuanku? Dengan santai Ibuku menjawab:

Continue reading