Rumah Hijau yang Kurindukan

Mendengar kata rumah hijau, pasti yang terdapat pada benak kita bermacam-macam. Ada yang berpendapat rumah yang berwarna hijau, rumah yang bernuansa serba hijau, atau rumah yang dipenuhi dengan pepohonan. Foto yang saya tampilkan di sini adalah salah satu Rumah Hijau yang menjadi favorit saya. Ya, itu adalah rumah tempat (numpang) tinggal saya. Rumah yang gerbang, tembok, dan bahkan gentengnya berwarna hijau.

Kategori hijau yang berarti rumah yang dipenuhi dengan pepohonan pernah dimiliki oleh rumah saya sampai akhir Oktober tahun 2015 lalu. Dulu, Rumah Hijau ini memiliki banyak sekali pohon di halamannya. Pohon jambu air putih dan merah, mangga, rambutan, anggrek, bougenville, melati, sakura (bukan sakura Jepang), dan masih banyak lagi tanaman hias yang lain. Teringat masa lalu, saat jambu air putih berbuah, saya biasa memanjat pohonnya dan langsung memakan buahnya di atas pohon. Apalagi pada saat siang hari. Rasanya sueger tenan. Buah yang dihasilkan pohon mangga dan rambutan pun tidak kalah enaknya. Buah mangganya besar, bijinya kecil, daging buahnya tebal, dan rasanya manis. Ah, mankyus tenan deh. Rambutannya juga demikian.

Jika pada siang hari udaranya terasa sangat panas, saya senang untuk berteduh di bawah pohon jambu yang rindang. Biasanya, saya ambil kursi malas dan berbaring di atasnya. Sering saya tidur sampai dicari oleh Ibu saya karena tidak ada di rumah. Suasana malam haripun juga membuat tenteram. Suara jangkrik dan katak yang bersautan terdengar jelas saat saya akan tidur. 

Tapi kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah bunga sakura dan bougenville. Sisanya? Ditebang. Rerumputannya? Dijadikan berpaving. Suasana berubah total. Siang hari yang terasa cukup sejuk sekarang jadi panas. Malam hari juga sama. Seringkali saya bergumam, mbok ya dibalikin ada pohon-pohonnya biar seger. 

Masa lalu tidak dapat diulang kembali. Bagaimanapun juga Rumah Hijau itu adalah tempat saya dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tua saya. Tempat berteduh ketika panas dan hujan. Tempat beristirahat ketika saya lelah. Tempat transit saya ketika kembali ke kampung halaman sebelum saya merantau lagi.

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini.” – Godbless

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s